Sekitar 12% populasi orang dewasa di AS—lebih dari 40 juta orang Amerika—hidup dengan diabetes yang terdiagnosis atau tidak. Penelitian baru mengungkapkan adanya tumpang tindih yang signifikan antara diabetes dan insufisiensi pankreas eksokrin (EPI), suatu kondisi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup enzim untuk mencerna makanan dengan baik. Hubungan ini bukan sekadar kebetulan; ini adalah hubungan dua arah di mana setiap kondisi dapat berkontribusi pada perkembangan kondisi lainnya.
Interaksi Antara Diabetes dan EPI
Penelitian menunjukkan bahwa antara 10% dan 30% penderita diabetes tipe 1 juga menderita EPI, sedangkan prevalensi diabetes tipe 2 berkisar antara 5% hingga 46%. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan sel pankreas yang bertanggung jawab untuk produksi enzim mungkin menjadi faktor kuncinya. Sebaliknya, pasien EPI menghadapi peningkatan risiko terkena diabetes tipe 2: sebuah penelitian menemukan bahwa hampir 45% pasien EPI kemudian mengembangkan penyakit tersebut.
Mekanisme di balik hubungan ini belum sepenuhnya dipahami. Namun, ketika pankreas tidak dapat memproduksi enzim pencernaan yang cukup, pencernaan parsial dapat terjadi di dalam organ itu sendiri, sehingga berpotensi merusak sel-sel penghasil insulin dan mengganggu regulasi gula darah.
Bagaimana Diabetes Mempengaruhi Pankreas
Peradangan dan kerusakan jaringan terkait diabetes dapat berkontribusi terhadap EPI. Penderita diabetes 1,5 hingga 2 kali lebih mungkin terkena pankreatitis akut, suatu kondisi di mana pankreas mengalami peradangan, sehingga meningkatkan risiko EPI dan diabetes. Faktor risiko bersama seperti obesitas, sindrom metabolik, dan pilihan gaya hidup (seperti konsumsi alkohol dan merokok) juga berperan.
Sebaliknya, penyakit pankreas seperti fibrosis kistik atau kanker dapat menyebabkan diabetes tipe 3c, yang berkembang setelah kerusakan pankreas. Dalam beberapa kasus, reaksi autoimun dapat menyerang jaringan pankreas, sehingga menyebabkan pankreatitis dan diabetes. Selain itu, neuropati diabetik—kerusakan saraf akibat diabetes—dapat mengganggu sinyal antar sel pankreas, sehingga semakin memperburuk disfungsi pencernaan.
Mengenali Tanda dan Gejalanya
Jika Anda menderita diabetes, penting untuk mewaspadai potensi gejala EPI:
- Sakit perut : Ketidaknyamanan ringan hingga parah di perut.
- Steatorrhea : Kotoran berminyak dan berlemak menunjukkan pencernaan lemak yang buruk.
- Penurunan berat badan yang tidak disengaja : Menurunkan berat badan tanpa berusaha.
- Kekurangan vitamin : Terutama vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, K).
- Perubahan gula darah yang tidak dapat diprediksi : “Diabetes rapuh” yang ditandai dengan kadar glukosa yang tidak menentu.
Meskipun EPI ringan mungkin tidak selalu menyebabkan gejala parah seperti tinja berminyak, masalah pencernaan yang terus-menerus harus segera dilakukan evaluasi medis. Kondisi seperti gastroparesis (pengosongan lambung yang tertunda) atau penyakit radang usus juga dapat menyebabkan malabsorpsi dan ketidakstabilan gula darah.
Diagnosis dan Pengobatan
Untungnya, EPI dapat didiagnosis dengan tes elastase tinja sederhana, yang mengukur kadar enzim pankreas dalam tinja. Pengobatannya meliputi terapi penggantian enzim pankreas (PERT), yang dilakukan bersama makanan untuk mengkompensasi kekurangan tersebut. Alat modern seperti monitor glukosa berkelanjutan (CGM) dan sistem pengiriman insulin otomatis juga dapat membantu mengelola fluktuasi gula darah.
Melihat ke Depan
Hubungan antara diabetes dan EPI sangatlah kompleks, namun penelitian yang berkembang membantu mengungkap mekanisme di baliknya. Jika Anda menderita diabetes dan mengalami gejala pencernaan atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, diskusikan pemeriksaan EPI dengan dokter Anda. Diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup secara signifikan.
Keterkaitan antara kondisi-kondisi ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik terhadap kesehatan, dengan menyadari bagaimana penyakit sistemik dapat mempengaruhi banyak sistem organ. Penelitian yang sedang berlangsung sangat penting untuk menyempurnakan pemahaman kita dan mengembangkan intervensi yang lebih tepat sasaran.




























