Banyak orang tua bergulat dengan disiplin. Ketika seorang anak berperilaku buruk, naluri untuk menghilangkan hak istimewa – suatu bentuk hukuman negatif – adalah hal yang biasa. Namun, meskipun hal ini dapat menghentikan perilaku yang tidak diinginkan untuk sementara waktu, hal ini tidak serta merta mengajarkan pelajaran mendasar yang perlu dipelajari seorang anak. Pendekatan ini, yang berakar pada psikologi perilaku, melibatkan menghilangkan sesuatu yang menyenangkan setelah perilaku buruk. Tapi apakah ini efektif? Dan apa saja alternatifnya?
Apa Sebenarnya Hukuman Negatif itu?
Hukuman negatif berarti menghilangkan sesuatu yang disukai anak ketika ia berperilaku buruk. Misalnya, mematikan acara setelah permainan kasar atau menjeda waktu bermain jika ada mainan yang dilempar. Ini berbeda dengan hukuman positif, yang menambahkan sesuatu yang tidak menyenangkan (seperti tugas tambahan) alih-alih menghilangkan sesuatu. Meskipun hukuman negatif mungkin terasa lebih ringan, penting untuk dipahami bahwa tidak ada metode yang mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan anak-anak untuk mengelola emosi atau menghadapi tantangan secara efektif.
Keuntungannya: Kapan Berhasil (Dan Mengapa Terbatas)
Hukuman negatif bukannya tanpa manfaat. Hal ini dapat menetapkan batasan yang jelas, terutama ketika anak-anak memahami apa yang diharapkan. Menghapus hak istimewa mungkin terasa tidak terlalu menakutkan dibandingkan menambah ketidaknyamanan, dan hubungan sebab-akibat dapat dengan mudah dipahami. Bagi orang tua yang mengalami krisis, ini menawarkan solusi cepat.
Namun manfaat ini hanya berumur pendek. Anak-anak sering kali fokus pada kerugian daripada pelajarannya. Putusnya hubungan dapat terjadi jika anak merasa dihukum, bukannya dibimbing. Yang paling penting, hukuman negatif gagal mengatasi akar penyebab perilaku buruk, seperti emosi yang meluap-luap atau keterampilan mengatasi masalah yang kurang berkembang. Hukuman ini paling efektif jika anak dalam keadaan tenang, dan hal ini jarang terjadi saat disiplin diperlukan.
Kekurangan: Mengapa Sering Gagal dalam Jangka Panjang
Ada kerugian yang signifikan. Merampas sesuatu yang menyenangkan dapat menimbulkan kebencian, bukan pemahaman. Anak-anak mungkin fokus pada kehilangan daripada belajar. Itu tidak memperbaiki masalah mendasar (kewalahan, kurangnya keterampilan).
Hal ini juga rentan terhadap perebutan kekuasaan, terutama jika anak merasa konsekuensinya tidak adil. Yang terpenting, hal ini jarang menciptakan perubahan yang bertahan lama karena tidak membangun keterampilan baru. Bahkan bisa menimbulkan rasa malu tanpa disengaja.
Disiplin Penuh Perhatian: 9 Strategi Bimbingan yang Efektif
Kunci disiplin yang efektif terletak pada koneksi, komunikasi yang jelas, dan keamanan emosional. Berikut sembilan tekniknya:
- Hubungkan Kembali Terlebih Dahulu: Sebelum memperbaiki perilaku, ciptakan ruang aman dengan melakukan pendekatan secara tenang.
- Jaga Harapan Tetap Sederhana: Gunakan instruksi yang jelas dan konkrit (“Kaki di lantai”) daripada penjelasan panjang lebar.
- Konsekuensi Alamiah: Biarkan hasil alamiah yang mengajar (misalnya, membuang mainan yang dibuang).
- Pemecahan Masalah Kolaboratif: Libatkan anak dalam mencari solusi (“Apa yang bisa kita coba lain kali?”).
- Keterampilan Pengaturan Emosional: Ajarkan mekanisme penanggulangan seperti bernapas dalam-dalam atau menggunakan sudut yang menenangkan.
- Peraturan Bersama: Tawarkan kehadiran yang tenang pada saat-saat sulit (“Saya di sini ketika Anda siap”).
- Penguatan Positif: Perhatikan upaya, bukan hanya hasil (“Anda bekerja keras untuk menjaga tangan Anda tetap lembut”).
- Model Perilaku: Tunjukkan cara menangani stres dengan tenang.
- Perbaikan Setelah Konflik: Bangun kembali koneksi dengan mengatakan, “Itu sulit, tapi kami baik-baik saja.”
Pemikiran Terakhir
Hukuman negatif dapat berhasil dalam jangka pendek, namun hukuman tersebut jarang mengatasi masalah inti yang mendorong perilaku buruk. Disiplin yang paling efektif berfokus pada membangun keterampilan, membina hubungan, dan menciptakan keamanan emosional. Dengan mengalihkan fokus dari hukuman ke bimbingan, orang tua dapat membantu anak-anak mengembangkan alat yang mereka perlukan untuk menghadapi tantangan dan membuat pilihan yang lebih baik.
